Monitor, Banten — Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Provinsi Banten, M. Yamin, mengungkapkan bahwa sebagian besar pedagang pasar saat ini tengah menghadapi penurunan omzet yang signifikan. Bahkan, penurunan tersebut disebut mencapai hingga 60 persen, menyisakan hanya sekitar 40 persen dari pendapatan normal.
“Keluhan ini banyak kami dengar langsung dari anggota. Omzet mereka turun drastis, tetapi kondisi ini harus kita sikapi dengan bijak dan solutif,” ujar Yamin saat wawancara eksklusif kepada Monitor Tangerang, disela acara pelaksanaan Rakerwil, Rabu(28/1/2026).
Menurutnya, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pedagang pasar tidak lagi memiliki pilihan selain beradaptasi dengan sistem digital. Menolak perdagangan daring (online) dinilai bukan solusi, melainkan justru akan membuat pedagang semakin tertinggal.
Baca Juga : APPSI Tangsel Tancap Gas! Enam Komisariat Pasar Dilantik di Rakerwil Banten
“Kita hidup di era teknologi. Sistem online tidak bisa dihapus. Kita harus mengikuti perkembangan zaman dan menjadi kreatif. Jika tidak, kita akan tertinggal,” tegasnya.
Yamin menjelaskan, untuk komoditas kebutuhan pokok seperti makanan, sayuran, daging, ikan, dan bahan pangan lainnya, dampak perdagangan digital tidak terlalu signifikan. Bahkan, sejumlah pasar tradisional telah mulai berinisiatif membuka layanan perdagangan secara daring guna menjangkau konsumen lebih luas.
“Beberapa pasar sudah mulai memanfaatkan sistem online. Ini bukti bahwa pedagang pasar sebenarnya mampu beradaptasi, asalkan difasilitasi dan diberikan edukasi yang tepat,” katanya.
Sejalan dengan arahan Ketua Umum APPSI, pihaknya mendorong seluruh pedagang untuk mempersiapkan diri menghadapi transformasi digital. APPSI, lanjut Yamin, juga berkomitmen memfasilitasi pedagang agar mampu bersaing di era digitalisasi.
Terkait hal ini, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten juga menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk mendukung program-program APPSI, khususnya dalam bentuk edukasi dan pelatihan perdagangan digital bagi pedagang pasar.
Selain itu Yamin juga menekankan pentingnya pembentukan komisariat-komisariat APPSI di setiap pasar sebagai wadah komunikasi dan konsolidasi antara pengurus dan pedagang.
“Kami berharap DPD-DPD di kabupaten dan kota dapat bersama-sama membangun komisariat pasar. Dengan begitu, hubungan antara APPSI dan pedagang menjadi lebih terbuka, komunikatif, dan solutif,” ujarnya.
sebagai informasi, saat ini dari delapan DPD APPSI di Provinsi Banten, baru dua daerah yang telah membentuk komisariat secara definitif, yakni Kabupaten Lebak dan Kota Tangerang Selatan. Total komisariat yang telah terbentuk baru sekitar 20-an, dari target 180 pasar di seluruh Provinsi Banten.
Rakerwil yang digelar di 1994 Coffee & Creative Space, Kecamatan Cipacok Jaya, Kota Serang, pada Rabu (28/1/2026) turut dihadiri Ketua Harian DPP APPSI Don Muzakir, Pendiri APPSI Drs. Ngadiran, perwakilan Gubernur Banten yang diwakili Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Iwan Setiawan, Sekretaris Jenderal DPW APPSI Jawa Barat, serta seluruh pengurus DPD APPSI se-Provinsi Banten.(cr01/mln)






