Alat Uji Swab di Tangsel Rusak, Pasien Bingung Cek Status Covid

oleh -

Monitor, Tangsel- Masyarakat yang tengah menunggu hasil pemeriksaan Swab PCR melalui fasilitas layanan kesehatan milik Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) harus kecewa. Sebab, peralatan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) tak bisa beroperasi hingga batas waktu tak terhingga.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Tangsel sendiri tak memungut biaya kepada warganya yang melakukan uji Swab di fasilitas yang telah ditentukan. Swab itu nantinya dikirim ke Labkesda yang memang memiliki peralatan khusus.

Meski gratis, pemeriksaan di Labkesda membutuhkan waktu berhari-hari bahkan hingga 2 pekan untuk menyatakan hasil positif atau negatif suatu sample Swab. Namun kini, kondisi demikian makin parah karena peralatan yang ada justru tak dapat beroperasi sama sekali.

Hal itu diketahui berdasarkan surat pemberitahuan dari UPT Labkesda Tangsel, di mana disebutkan tidak lagi menerima pemeriksaan sampel Covid-19 terhitung sejak hari ini, Rabu(21/01/21).

“Sehubungan adanya maintenance alat PCR Sars Cov-2, maka bersama ini UPT Labkesda Tangsel memberitahukan terhitung hari Rabu 20 Januari 2021 tidak menerima sample Covid-19,” bunyi surat pemberitahuan yang ditandatangani Kepala Labkesda, Riki Hermawan, Kamis (21/01/21)

“Proses maintenance ini sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan,” lanjutan isi dari surat itu.

Saat dikonfirmasi, Riki mengungkapkan jika maintenance PCR dilakukan demi menjaga keselamatan petugas dan sample serta pengecekan alat-alat dan kalibrasi rutin untuk menjaga kualitas pemeriksaan sampel.

“Sampel sementara ini kami kirim ke BBTKL, Mikro UI, Litbangkes, dan Labkesda Provinsi Banten. Mohon dimaklumi, kita kan harus general mutu. Harus menjaga kualitas,” ucapnya.

Kondisi demikian membuat resah mereka yang tengah menanti hasil uji Swab. Salah satunya adalah pasien Covid-19 berinisial NA. Dia mengaku bingung bahkan kecewa karena proses maintenance PCR Sars Cov-2 di Labkesda Tangsel tak jelas berlangsung hingga kapan.

“Kalau begini kasihan juga jadi warga Tangsel, kasus lagi banyak-banyaknya terus alat rusak. Ini kan sama aja kita disuruh Swab mandiri. Bikin susah warga. Bayangin aja coba, biaya swab PCR mandiri bisa Rp900 ribu. Kalau sekeluarga misalnya 4 sampai 5 orang yang Swab berapa biayanya? kasihan kan,” katanya dihubungi terpisah.

NA sendiri telah melakukan isolasi mandiri karena hasil Swab awal dia dan keluarga dinyatakan positif. Lalu untuk memastikan kondisi berikutnya, dia dan keluarga menjalani Swab di Puskesmas Pisangan, Ciputat Timur secara gratis. Namun hingga kini hasilnya tak kunjung keluar.

“Nunggu hasil Swab PCR di Puskesmas nggak keluar-keluar,” keluhnya.

Sementara, tak operasionalnya alat uji hasil Swab mendapat perhatian Sekretaris Komisi 2 DPRD Tangsel, Paramitha Messayu. Menurut dia, Pemkot Tangsel harus solutif dengan memikirkan langkah strategis apa saja yang diambil selama proses maintenance itu berlangsung.

“Masyarakat harus tetap terlayani dengan baik. Misal bekerjasama dengan laboratorium lainnya. Hal ini dilakukan agar pelayanan terhadap masyarakat terus bisa dilakukan,” jelasnya.

Dilanjutkannya, pemerintah harus hadir menjadi solusi di tengah Pandemi. Setidaknya kata dia, harus diberi penjelasan hingga kapan batas waktu maintenance itu berlangsung. Dengan begitu, masyarakat mendapat kepastian atas pelayanan kesehatan yang berlangsung.

“Sampaikan batas waktu maintenance alat PCR agar masyarakat tenang dan juga solusi strategis dan komprehensif penanganan pandemi saat ini. Saya pribadi prihatin, di tengah pelaksanaan PPKM se-Jawa-Bali saat ini bersamaan dengan pembatasan bahkan penghentian penerimaan sampel analisis Swab PCR dari Pemkot Tangsel,” tandasnya.(bli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *