Balita Meninggal Terkena DBD, Warga Tangsel Keluhkan Lambannya Peran Pemda

oleh

Monitor, Tangsel – Penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) akibat gigitan nyamuk aedes aegypti terus bertambah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Baru-baru ini, seorang balita dikabarkan meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di salah satu Rumah Sakit (RS) swasta.

Balita malang yang nyawanya tak tertolong itu tinggal di lingkungan RW03, Pondok Aren, Tangsel. Informasi tersebut dibenarkan oleh salah satu petugas di Puskesmas Pondok Aren jika ada seorang warganya yang dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan.

“Banyak warga kita yang dirawat di sana. Tapi tidak diberikan datanya (rekam medis) oleh pihak rumah sakit. Banyak warga kami yang memberikan info jika pasien yang terkena DBD dilarikan ke sana. Ada yang meninggal satu warga kami, usianya 5 tahun,” kata petugas yang minta dirahasiakan identitasnya itu, di Jalan Swabakti, Pondok Aren, Jumat (8/3/2019).

Dilanjutkannya, wabah DBD di Kota Tangsel masih belum bisa ditanggulangi efektif mengingat masih banyaknya pasien yang datang karena diduga terdiagnosa sakit DBD. Kata dia, bahkan angkanya terus mengalami peningkatan tiap bulan.

“Di bulan Januari ada 6 yang kena DBD, Februari naik jadi 7, dan awal maret ini masuk lagi 2 pasien. Itu belum semua. Karena banyak yang belum terdata,” imbuhnya.

Baca Juga : Airin Minta Dinkes Tangsel Buka Data Wabah DBD

Beberapa warga yang tinggal di lingkungan Kecamatan Pondok Aren, mengeluhkan lambannya penanganan penyebaran nyamuk DBD oleh pemerintah setempat. Tak sedikit dari warga yang justru harus patungan untuk membiayai sendiri fogging di masing-masing pemukimannya.

“Ini kan massif terjadi, sudah lama. Harusnya ada tindakan biar nggak jatuh korban lagi. Selama ini belum ada, kalaupun ada fogging itu di daerah lain dan terbatas sekali, belum sampai kesini. Apalagi prosedur mengajukannya ribet, harus ini itu segala macem, yaudah terpaksa kita inisiatif patungan masing-masing buat fogging,” ungkap Endang Rahmat, Ketua RT07 RW12, Pondok Aren, dikonfirmasi terpisah.

Keluhan yang sama dituturkan Muhamad Itba (32), warga yang tinggal di Jalan Ir H Juanda, Ciputat. Menurut dia, pemukimannya yang terletak tak jauh dari Pasar Ciputat itu, belum tersentuh upaya dari pemerintah dalam meminimalisir penyebaran nyamuk DBD.

“Alhamdulillah belum ada yang sampai meninggal, tapi kalau dirawat karena kena DBD itu banyak warga disini. Umumnya dibawa ke RS swasta, karena ke RSU alasannya penuh. Kita sih berharap pemerintah turun ke bawah buat penanggulangannya, karena kita juga was-was jangan-jangan besok kita yang kena,” terangnya.

Dari penelusuran di lapangan, diketahui tak ada angka pasti mengenai jumlah pasien DBD yang tersebar di berbagai rumah sakit. Sementara selama ini, pihak RSU dan Dinas Kesehatan Kota Tangsel hanya merujuk data berdasarkan jumlah pasien yang dirawat di Puskesmas maupun di RSU.

Padahal, pengakuan keluarga korban DBD banyak menyebutkan jika banyak yang memilih berobat ke RS swasta lantaran kapasitas rawat inap di RSU penuh. Bahkan mirisnya lagi, mereka harus mencari RS swasta yang berada di luar wilayah Kota Tangsel guna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *