Bang Ben: Budayakan Pelajar Mencintai Lingkungan

oleh
Wakil walikota Tangsel, Benyamin Davnie

Monitor, Tangsel– Wakil Walikota Tangerang Selatan (Tangsel) Benyamin Davnie mengatakan, hal paling efektif untuk mengawali membangun kesadaran warga menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan yakni dari sekolah dan kampus. Menurutnya, idealnya kesadaran menjaga lingkungan itu harus mulai ditanamkan sejak dini yakni pada anak-anak yang masuk duduk di bangku TK/PAUD.

“Sebab, semakin awal diberikan kesadaran soal lingkungan, hal itu akan tertanam hingga mereka dewasa,” jelasnya.

Ia juga pernah mencontohkan, di Swedia, anak-anak usia TK sudah diajarkan untuk mengenal lingkungan hidup. Pola belajar mereka tidak hanya di kelas saja. Tapi mereka juga melakukan pelajaran luar sekolah seperti di taman kota, hutan kota maupun beberapa tempat yang berkaitan dengan lingkungan hidup.

“Sambil belajar, mereka diajak bermain sehingga menyenangkan bagi anak-anak. Namun, mereka juga mendapatkan pengetahuan lingkungan hidup,” jelasnya. Menurutnya, pelajar maupun mahasiswa itu bisa menjadi Agen of Change yang mampu membawa perubahan, tidak hanya bagi lingkungan sekolahnya tapi juga lingkungan rumah.

Menanamkan sikap disiplin dalam menjaga lingkungan bagi setiap siswa akan membawa dampak besar bagi mereka. Misalnya, pihak sekolah menerapkan sanksi khusus bagi siswa yang diketahui merusak lingkungan sekolahnya. Namun yang harus diperhatikan, sanksi ini semata-mata hanya untuk membangun kesadaran mereka terhadap lingkungan.

Di tempat terpisah, Pendiri MTs Al Kautsar Ciputat Ismail Mahulauw M.Pd mengatakan, edukasi lingkungan hidup di sekolah bisa dimulai dari membangun kesadaran para guru dan pegawai sekolah soal lingkungan. Sebab, mereka adalah panutan siswa sehingga setiap prilakunya akan menjadi acuan bagi siswa.

“Kalau seorang guru merokok di dalam lingkungan sekolah lalu guru itu membuang puntung rokok sembarangan, tentu hal ini sangat tidak mendidik,” ujarnya.

Jika kesadaran sudah tercipta, baik dalam diri generasi mudanya maupun publik, maka rasa memiliki akan muncul dengan sendirinya.

“Bayangkan jika rasa memiliki itu telah tumbuh, maka seseorang akan begitu rajinnya merawat dan memelihara. Misalnya, kita akan tegur keras jika melihat ada orang yang membuang sampah sembarangan di hutan kota. Kita begitu marah bila melihat ada orang yang melempar sampah seenaknya di jalanan,” urainya.

Menurutnya, rasa memiliki akan memunculkan tanggung jawab. Dan rasa tanggung jawab tentu berkaitan erat dengan kesadaran.

“Ending-nya adalah kita akan sadar bahwa tugas menjaga lingkungan itu bukan hanya kewajiban pemerintah saja tapi juga masyarakat,” tambahnya. (ptr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *