Buntut Kasus Lurah Saidun, Paguyuban Lurah Bakal Bongkar Tradisi Siswa Titipan di Tangsel

oleh -
Lurah Cipayung, Tomy Patria Edwardi

Monitor, Tangsel – Kasus amukan Lurah Saidun kini masih dalam penyelidikan polisi. Meski telah meminta maaf, namun banyak pihak terus mendesak agar proses hukum dan pencopotan jabatannya segera dilakukan.

Lurah Benda Baru, Kecamatan Pamulang, itu dilaporkan pihak SMAN 3 lantaran aksinya yang menendang perkakas beling di atas meja di ruangan Kepala Sekolah. Pemicunya, Saidun merasa tak terima usai mendengar penjelasan soal nasib 2 siswa titipannya yang terus menggantung.

Kini solidaritas sesama profesi lurah tergerak, mereka tak terima jika Lurah Saidun dikorbankan dengan isu siswa titipan. Lantas ancaman bongkar-membongkar praktik titipan itu kini menyeruak. Diduga banyak pihak melakukan hal yang sama sejak bertahun-tahun silam.

“Beliau sudah minta maaf, tapi jangan terus dibully, seolah-olah yang lain bersih dari hal itu. Kalau masih terus seperti ini, maka kami dari forum paguyuban lurah se-Tangsel akan buat laporan ke kejaksaan untuk membongkar dan mengaudit proses penerimaan siswa baru selama ini,” tegas Juru Bicara Forum Paguyuban Lurah Kota Tangsel, Tomi Patria Edwardy, Sabtu (25/7/2020).

Dilanjutkan Tomi, seharusnya pihak SMAN 3 menyelesaikan insiden itu dengan komunikasi kekeluargaan. Bukan serta-merta membuat laporan polisi dan memberikan keterangan yang cenderung menyudutkan posisi Lurah Saidun.

“Pihak sekolah, walaupun SMAN ranahnya provinsi, tapi kalau ada masalah apapun kan tetap melibatkan peran kelurahan setempat. Kalau ada preman mabuk, terus ganggu siswa sekolahnya, siapa yang ikut turun kalau bukan kelurahan juga. Kalau jalan rusak di sekitar sekolah siapa yang bakal turun, tetap kelurahan juga. Harusnya pihak sekolah juga bijak, tidak membesar-besarkan masalah ini,” imbuhnya.

Menurut Tomi, emosi spontanitas Lurah Saidun memang disesalkan. Namun begitu, kata dia, banyak hal yang harus diketahui publik secara utuh. Di mana aksi Saidun, terjadi dipicu adanya rangkaian peristiwa panjang soal kesepahaman antara SMAN 3 dengan warga sekitar yang diwakili kelurahan setempat.

“Jadi akhir 2019 lalu ada komunikasi antara sekolah dengan kelurahan, waktu itu pihak sekolah meminta dibantu buat surat Leter C desa, terkait kewilayahan, ada penyerahan aset. Disitu muncul komitmen pihak sekolah, di mana nanti saat penerimaan siswa baru untuk zonasi, maka bisa mengakomodir warga sekitar. Awalnya dari situ kan, terjadi kesepahaman,” lanjut Tomi.

Komitmen itu pun ditagih saat proses penerimaan siswa baru tingkat SMA. Beberapa warga tak mampu mendatangi Lurah Saidun, lalu meminta bantuan agar anak mereka bisa masuk ke SMAN 3. Karena merasa telah terjalin kesepahaman sebelumnya, Saidun lantas mendatangi SMAN 3 jauh hari sebelum kejadian yang viral tersebut.

“Lurah Saidun ini memang niatnya membantu, ada warga nggak mampu ingin masuk kesana. Orang tuanya bekerja sebagai OB (Office Boy), akhirnya dibantu komunikasi dengan sekolah. Lalu dijanjikan kalau 2 calon siswa itu daftar tunggu oleh pihak sekolah. Wajarkan ditagih, karena sudah dijanjikan dari awal-awal,” terangnya.

Namun ditengah proses itu, ungkap Tomi, Kepsek SMAN 3 justru melontarkan pernyataan yang secara tidak langsung menyinggung pribadi Saidun. Dimana disebutkan, seolah-olah Lurah Saidun menerima imbalan tertentu dari calon siswa titipannya.

“Pihak Kepsek bilang ke lurah, nggak bisa masuk 2 siswa itu, ada apa sih pak kok kesannya mendesak banget supaya siswa itu bisa masuk SMAN 3, ada apa?. Dibilang begitu pasti tersinggung dong, kalau mau fair ya dari awal dijelaskan apa adanya, jangan di awal dijanjiin tapi pada akhirnya justru berbeda,” ucap Tomi.

Masih kata dia, hingga saat ini forum paguyuban lurah se Kota Tangsel masih terus berkonsolidasi menentukan sikap. Bahkan mereka bersedia membeberkan bukti-bukti keterlibatan berbagai pihak yang melakukan praktik titipan di sekolah negeri yang ada.

“Jangan sok bersih, kami juga tahu semua bermain untuk kasus yang sama. Dewan (DPRD) juga sama, saya dengar ada dewan yang minta Lurah Saidun dicopot. Kalau sampai dicopot, ya sekalian kita ungkap siapa saja anggota dewan yang nitip-nitip seperti itu, bahkan siswanya dimintain uang juga berjuta-juta. Coba bandingin kasusnya sama Saidun, dia nolong orang nggak punya kok biar bisa sekolah,” pungkasnya.(bli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *