Cerita Pedagang Pamulang Square saat Rapid Test, Tempuh Berbagai Cara Hindari Reaktif

oleh -

Monitor, Tangsel – Para pedagang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang berjualan di Pamulang Square menjalani rapid test massal. Satu-persatu mereka mendatangi ruangan pengecekan di Posko bagian belakang pengelola kawasan.

Tercatat total ada sekira 200 pedagang yang mendaftar. Umumnya mereka adalah pelaku usaha kecil yang setiap harinya berinteraksi langsung dengan pembeli. Upaya itu dilakukan, untuk memastikan bahwa aktivitas perdagangan di sana aman dari penyebaran Covid-19.

Monitor menemui beberapa pedagang yang mengikuti Rapid Test. Tak semua mereka paham betul dengan istilah medis itu. Namun satu hal yang terbayang dalam benak pedagang, yakni jika hasilnya reaktif maka otomatis dianggap sebagai positif Covid, lalu dikarantina di ruang isolasi.

Ketakutan itu, sempat membuat ragu segelintir pedagang. Namun karena rapid test jadi keharusan yang disepakati bersama, maka mau tidak mau seluruh pemilik kios mengikuti ketentuannya. Berbagai cara pun ditempuh guna menghindari hasil reaktif.

Diceritakan salah satu pedagang pakaian bernama, Fitriani (29), jika 1-2 hari menjelang pelaksanaan Rapid Test dia merasa gusar dan was-was. Lalu berbagai saran dijalani, misalnya tak meminum es, tidur cukup, hindari pikiran stres, serta memerbanyak minuman susu dan wedang jahe.

“Kita kan was-was, takutnya kalau hasil reaktif nanti dikarantina, dijauhin orang-orang sekitar. Pokoknya galau banget sebelum hari H. Sampai kita ikutin saran nggak minum es beberapa hari sebelumnya, itu kan sulit banget, kita hampir nggak mungkin kalau cuaca panas begini nggak minum es. Tapi mau nggak mau ya kita lakuin, nggak kuat banget sih tenggorokan bener-bener kering,” katanya Rabu (22/7/2020).

Dilanjutkan Fitri, rasa was-was semakin memuncak saat malam jelang hari pelaksanaan rapid test. Mereka memilih mengurung diri di kediaman masing-masing sambil berkomunikasi satu sama lain sesama pedagang.

“Kita chatan aja sambil curhat, saya sendiri nggak kemana-mana di rumah aja biar nggak capek kan. Tapi walaupun fisik nggak capek, pikiran kita malah yang jadi tegang,” imbuhnya.

Sedikit berbeda dengan Fitriani, pedagang lainnya bernama Erik mengungkap kesiapannya mengikuti Rapid Test kedua kali. Kata dia, pengalamannya mengikuti Rapid Test pertama menambah kepercayaan diri untuk melakukan hal yang sama saat ini.

“Saya sudah pernah ikut yang pertama, jadi yang kedua ini agak rileks. Pengelola sudah kasih tahu persiapannya, yang penting itu kita jaga kondisi tubuhnya biar nggak flu, demam,” ucapnya usai menjalani Rapid Test.

Sementara, Staf Pelaksana Seksi Mutu dan Akreditasi Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Heru Indrawan menuturkan, hasil Rapid Test yang dilakukan kepada para pedagang itu bisa diketahui hanya dalam waktu sekira 10 hingga 15 menit. Hasilnya pun segera dikirimkan ke Dinas Kesehatan dan Gugus Tugas Covid-19 Kota Tangsel sebagai data rujukan.

“Data ini nanti dikirim ke dinkes dan gugus tugas. Semuanya non reaktif. Ini patut diapresiasi ya, karena mereka punya kesadaran bersama untuk menggelar Rapid. Artinya mereka punya tanggung jawab juga menjamin lingkungan berdagang aman dari Covid,” jelas Heru.

Terpisah, pengelola Pamulang Square menyebut bahwa pemeriksaan Rapid Test akan rutin digelar bagi semua pedagang. Mereka bekerjasama juga dengan Dinkes untuk memastikan bahwa area itu aman didatangi masyarakat.

“Pasti rutin kita gelar, memang sebagian kecilnya sudah ada yang Rapid Test mandiri. Hasilnya kita pampang di pintu masuk, agar masyarakat tak khawatir. Jadi benar-benar kita protek celah penyebaran Covid. Apalagi di sini bisa dibilang pusat pedagang UMKM di Kota Tangsel, jadi masyarakat pun harus terjamin kalau datang ke sini,” tutur Chief Operasional Managemen Pamulang Square, Eru Cipta.(bli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *