Heboh Bocah 3 Tahun “Disunat Jin” di Tangsel, IDI Jelaskan Hal Ini

oleh -

Monitor, Tangsel- Kabar seorang bocah berinisial MG (3) “Disunat jin” membuat heboh masyarakat. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun angkat bicara menjelaskan bahwa kejadian itu dalam dunia medis sebenarnya diawali dengan kelainan Phimosis.

Phimosis sendiri merupakan kondisi pada bayi dan anak-anak yang disebabkan kulit kepala atau kulup penis belum terlepas secara sempurna dari kepala penis. Kulup akan terlepas dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak.

Namun dilarang keras upaya untuk melepaskan kulup tersebut. Sebab, akan memicu resiko gangguan yang dalam dunia medis disebut Parafimosis. Yakni kondisi kelainan bentuk penis yang terjadi karena preputium yang tertarik ke belakang dan melipat serta menjerat batang penis.

Jika terjadi demikian, maka kulup penis tidak bisa lagi ditarik ke depan yang menyebabkan kepala penis terlihat seperti telah dikhitan. Pemicu Parafimosis antara lain faktor setelah ereksi, menarik penis terlalu kuat pada saat mau kencing, atau karena penis sering dibuat main (pelintir) oleh anak.

Ketua IDI Tangsel, Imbar Umar Ghazali, mengatakan, istilah “Disunat jin” tidak dikenal dalam dunia kesehatan. Menurut dia, hal yang sebenarnya terjadi adalah parafimosis. Di mana penyebabnya adalah infeksi atau gatal-gatal pada ujung penis yang memiliki kelainan Phimosis.

“Kalau Phimosis itu biasanya terjadi pada anak kecil, dia didiagnosa Phimosis kalau kulit penisnya itu tidak bisa ditarik-tarik ke atas, sehingga keliatan kepala penisnya. Jadi istilah yang disebut masyarakat itu kuncup,” katanya, Senin (29/6/2020).

Mereka yang tak memiliki kelainan Phimosis, sambung Imbar, maka kulit pada ujung penisnya bisa dibuka. Namun hal sebaliknya terjadi pada orang-orang yang mengidap Phimosis, di mana kulit pada ujung penisnya rapat, menyempit dan kuncup. Sehingga berdampak pada rasa nyeri saat pengidapnya buang air kecil.

“Gejalanya itu kalau kencing sakit, teriak, nangis, dan bisa badannya sampai panas,” imbuhnya.

Bagi pengidap Phimosis, sangat mungkin sisa air seni yang dikeluarkan tak sepenuhnya terbuang Melainkan terdapat sisa-sisa air seni akibat kulit pada ujung penisnya merapat dan kuncup. Kondisi demikian jika dibiarkan berlangsung beberapa hari dapat menimbulkan rasa gatal pada ujung penis.

“Kalau sisa-sisa air seni itu dibiarkan satu- dua hari maka akan menimbulkan gatal. Kalau dia gatal, biasanya reaksi anak kecil dipelintir-pelintir kulit pada ujung penisnya. Nah kalau dipelintir itu keseringan, dia bisa iseng tarik ke atas kulit ujung penisnya itu. Karena dia Phimosis kulitnya ketarik, dia sudah tidak bisa lagi diturunkan karena dia lengket, ditarik turun sudah tidak mau. Biasanya hal itu yang didefinisikan sudah sunat,” ungkapnya.

Imbar menjelaskan, jika sudah terjadi kondisi demikian pada anak, maka orang tua tidak perlu panik selama sang anak tidak mengeluhkan gejala apapun. Dampak yang paling mungkin terjadi di kemudian hari adalah, kepala penis berukuran lebih kecil akibat aliran darah tertekan kulit yang melipat ke atas itu.

“Nggak ada, sepanjang tidak ada keluhan. Kenyataannya di kemudian hari yang ada kepala penisnya kecil,” terangnya.

Phimosis sendiri, disebutkannya, kerap terjadi pada kebersihan diri dan lingkungan seseorang. Misalnya mandi dengan menggunakan air yang kurang bersih, sehingga partikel-partikel kecil menempel di bagian dalam kulit penis yang belum disunat.

“Kalau tingkat kebersihannya tidak bagus, misalnya dia tinggal di kampung, dia mandi masih di kali yang airnya tidak jernih, maka kejadian ini sering terjadi. Pasir-pasir halus masuk ke dalam kulit, lalu memicu infeksi dan rasa gatal pada ujung penis,” tukasnya.

Sebelumnya, kejadian misterius dialami MG pada Kamis 25 Juni 2020 malam. Kedua orang tuanya, Rahmat dan Afiatun, terperanjat begitu mengetahui penis putranya sudah dalam kondisi tersunat. Bahkan guna memastikan kondisi itu, mereka telah berkonsultasi dengan mantri sunat yang membuka praktek di dekat kontrakannya, Jalan Masjid Nurul Qomar, RT02 RW06, Sawah Baru, Ciputat.

Keesokan harinya, cerita itu kian ramai menyebar di lingkungan warga sekitar. Para tetangga pun berdatangan silih berganti mengecek kondisi Gazi. Semua merasa aneh dan bingung, karena tak mampu memahami secara logis. Kebanyakan mengaitkan peristiwa itu dengan hal berbau mistis dengan sebutan “Disunat Jin”.(bli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *