Ikatan Dokter Muslim UIN Dorong Pemkot Tangsel Tuntaskan Kasus DBD 

oleh

Monitor, Tangsel – Jumlah korban akibat virus yang ditularkan gigitan nyamuk aedes aegypti terus meningkat secara nasional. Bahkan dari dari Kementerian Kesehatan menyebutkan, jika jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga tanggal 3 Februari 2019 mencapai 16.692 kasus, dengan 169 pasien diantaranya meninggal dunia. Jumlah ini meningkat dari data sebelumnya pada 29 Januari 2019, yang mencapai 13.683 kasus.

Tak terkecuali di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), pasien-pasien DBD nampak banyak memenuhi kamar dan ruang perawatan, bahkan sempat ada pula yang terpaksa ditangani di selasar RSU maupun di sejumlah rumah sakit swasta lainnya.

Data terakhir, seorang pasien penderita DBD meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di RSU. Pasien atas nama Ati (51), warga Kampung Keranggan, RT12 RW05, Keranggan, Setu, Tangsel, itu mengembuskan nafas terakhirnya pada Jumat pagi, 15 Maret 2019.

Jumlah korban yang terus berjatuhan itu sulit terbendung, manakala upaya yang dilakukan hanya terkesan reaksional dan tak menyeluruh. Ditambah lagi, pergeseran cuaca yang tak menentu membuat nyamuk DBD tetap leluasa berkembang biak di tempat-tempat yang lembab.

“Pencegahan demam berdarah sangat tergantung pada pemutusan mata rantai penyebaran nyamuk aedes aegypti,” terang Dr. Irwienny Tria Pujiastuti, M.Ked (Ped), Sp.A, Pengurus Ikatan Dokter Muslim Alumni UIN Jakarta (Idomain), Kamis (21/3/2019).

Dikatakan Irwienny, meskipun vaksin virus dengue telah ditemukan, namun hingga kini masih belum bisa digunakan secara luas karena masih dalam tahap penelitian lebih lanjut. Sedangkan Fogging, sambung dia, hanya efektif pada saat terjadinya wabah.

“Fogging itu tidak efektif membunuh telur dan larva yang masih berada di air. Sehingga memang dalam penanganan DBD ini, peran serta masyarakat juga sangat menentukan,” sambungnya.

Menurut dia, sebenarnya pemerintah telah mencanangkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M-plus guna memutus mata rantai penyebaran nyamuk DBD. Namun upaya itu tak boleh terhenti hanya pada seruan semata, melainkan juga terus digalakkan melalui instrumen lainnya, seperti Puskesmas dan Jumantik.

“Cara-cara yang terbilang sederhana itu merupakan langkah yang penting dalam memutus mata rantai penyebaran nyamuk DBD. Sehingga menurunkan angka kejadian infeksi dengue di Indonesia. Tentu ini menjadi tugas bersama, tapi pemerintah daerah lah yang memegang kendali guna menggerakkan instrumennya mencegah kasus itu meluas,” ucapnya lagi.

Masih kata dia, pola 3M-plus yang sering dibeberkan dalam penyuluhan, seperti Menguras tempat penampungan air, Menutup rapat tempat-tempat penampungan air, Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi tempat perkembangbiakan nyamuk, belum dibarengi dengan kesadaran mempraktikkannya.

“Pola 3M-plus itu sebenarnya sudah sering diingat, tapi budaya mempraktikkannya yang masih rendah. Begitu muncul musimnya, baru kita bertindak. Itulah mengapa pencegahannya harus tuntas,” tandasnya.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kota Tangsel sendiri menyebutkan bahwa alokasi anggaran bagi penanganan kasus DBD mencapai sekira Rp2,5 miliar. Dana itu dibagi penggunaannya, yakni untuk operasional Jumantik, fogging, dan pengadaan serbuk pembunuh jentik nyamuk (lafasida).(bli/mt01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *