Jadi Korban Peremasan Payudara di Ciputat, Ibu Muda Ungkap Praktik Bejat Pelaku

oleh -

Monitor, Tangsel – Seorang perempuan berinisial S (38), menjadi korban pencabulan oleh Marudin, pemilik kontrakan di Kampung Parung Benying, RT04 RW03, Serua, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel). Ibu muda dari 2 orang anak itu pun mengungkap, bahwa perbuatan cabul pelaku dilakukan dengan bermacam cara.

Dibeberkan S, bahwa sejak belasan tahun lalu Marudin memertunjukkan perbuatan tak senonoh terhadap dirinya. Meskipun, Marudin sendiri telah mempunyai istri dan tahu bahwa korban juga memiliki seorang suami dan 2 anak.

“Perbuatan mesum itu sudah dari 16 tahun lalu, padahal saya sudah bersuami. Kadang lewat chat, video call nunjukin alat kelaminnya. Waktu itu saya nggak tahu yang nelfon siapa, waktu saya angkat ternyata dia. Pernah cekcok juga sama suami saya, tapi begitu lagi kelakuannya,” tutur S usai diperiksa penyidik di Mapolres Tangsel, Rabu (2/9/2020).

Sebelumnya, S tinggal bersama suaminya di lingkungan RT yang sama dengan tempat tinggal Marudin. Namun 1 tahun belakangan, karena persoalan rumah tangga akhirnya S berpindah menyewa salah satu kontrakan milik pelaku.

“Saya baru 1 tahun ini pindah, ke kontrakan yang punya dia (pelaku),” jelas S.

Puncak perbuatan cabul Marudin terjadi pada Jumat 21 Agustus 2020, sore. Ketika itu, S dan sejumlah ibu-ibu lainnya tengah berkumpul sambil merujak. Tiba-tiba, Marudin datang dan membaur bersama mereka.

“Waktu itu lagi pada ngerujak, nah dia datang ikut makan rujak bareng. Saya kan terus bilang sesuatu, maksudnya bercanda kok abang nggak modal amat ngerujak sama perempuan, itu dia langsung marah,” terang S.

Melampiaskan kekesalannya, pelaku langsung meremas payudara korban sambil memelintir. “Besoknya itu merah bagian dada saya, kayak bekas kecakar gitu, keliatan memar,” lanjutnya.

Korban lalu membuat laporan ke Mapolres Tangsel dengan nomor TBL/922/K/VIII/2020/SPKT/Res Tangsel, Sabtu 22 Agustus 2020. Laporan itu pun sebelumnya sempat dihalang-halangi dengan intimidasi dan tekanan dari keluarga Marudin.

“Diancam sebelum melapor, katanya mau dimusuhi kalau jadi laporan ke polisi, terus mau diusir dari kontrakan. Karena kan dia (Marudin) keluarga besar, kakak iparnya itu menjabat RW,” ucap S.

Sementara, kuasa hukum korban Rudi Hermanto, menjelaskan, bahwa kedatangan S hari ini adalah untuk memberi keterangan kepada penyidik. Dalam waktu dekat, sejumlah saksi juga akan ikut dipanggil polisi.

“Jadi nanti saksi-saksi dipanggil, sambil menunggu keluar hasil visum. Setelah itu baru terlapor dipanggil juga untuk diperiksa,” kata Rudi.

Guna melindungi korban dari kemungkinan tekanan terlapor dan keluarganya, jelas Rudi, pihaknya akan berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A).

“Tentu kami akan berkoordinasi dengan LPSK dan P2TP2A. Karena korban ini sejak malam kejadian kemarin, langsung pindah dari kontrakan itu,” tandasnya.

Sementara, Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tangsel belum bisa memberi keterangan atas kejadian ini karena masih menunggu hasil penyelidikan.(bli)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.