Keprihatinan Buruh Paruh Baya di Tangsel, 8 Tahun Bekerja Digaji Minim

oleh -

Monitor, Setu – Momentum hari Buruh Internasional akan dirayakan serentak oleh para pekerja pada tanggal 1 Mei 2018 besok. Pada perayaan itu, secercah harapan begitu dinantikan demi tercapainya tuntutan atas perjuangan kaum buruh yang belum terealisasikan.

Ungkapan keprihatinan dilontarkan oleh Ahmad Fadoli (49), salah satu buruh perusahaan makanan di kawasan pergudangan Taman Tekno Blok E 3, BSD City, Jalan Tekno Widya, Setu, Tangerang Selatan (Tangsel). Pengabdian selama 8 tahun bekerja, tak menambah jumlah penghasilan yang diterimanya tiap bulan.

“Saya sudah bekerja hampir 8 tahunan, tapi ya penghasilannya belum ada peningkatan. Perbulan saya terima gaji Rp3,2 juta kotor, belum dipotong sama yang lain-lain, jadi bersihnya saya terima sekira Rp3 juta,” katanya saat ditemui di sela-sela jam istirahat siang, Senin (30/4/2018).

Dengan penghasilan minim, pria yang tinggal di Desa Mekar Wangi, RT05 RW02, Mekar Wangi, Cisauk, Tangsel, itu, menyebutkan, kerap kali harus mencari pinjaman untuk menutupi segala keperluan rumah tangganya. Maklum saja, Fadoli harus menanggung segala kebutuhan keluarga seorang diri, karena istrinya hanyalah sebagai ibu rumah tangga yang saban hari mengurus putra-putrinya di rumah.

“Anak saya ada 7 orang, yang 6 orang masih sekolah. Kalau yang paling tua usianya sudah 23 tahun, masih nganggur, belum dapat-dapat kerjaan lagi. Kalau dihitung, biaya hidup keluarga saya sehari-hari itu mencapai Rp150 ribuan, jumlahin aja kalau sebulan berapa, nggak sesuai dengan pendapatan,” ucapnya.

Fadoli sendiri bekerja di bagian produksi pengemasan buah di PT Raja Top Food. Jumlah pekerja di pabrik itu tak terlalu banyak, hanya sekira 200-an pekerja yang terbagi-bagi pada produksi buah, ayam, otak-otak, daging bakso, dan makanan lainnya.

“Ada bagian masing-masing, semuanya di pabrik ini bergerak diproduksi makanan jadi, nanti barang-barangnya dikirim ke mal-mal atau swalayan besar,” imbuh dia.

Seluruh pekerja di pabrik itu, di bagi 2 shif, yakni masuk dengan hari kerja Senin hingga Jumat, dan ada juga yang bekerja dari Senin hingga Sabtu, hanya dibedakan pada jam kerja tiap shifnya. Sementara, untuk uang makannya, tiap hari para pekerja diberi Rp8ribu dan itupun sudah terakumulasi dengan total gaji yang diterima tiap bulan.

Fadoli melanjutkan, pengangkatannya sebagai karyawan tetap sejak beberapa tahun lalu, tak terlalu menjadikannya istimewa, lantaran gaji yang diterima ternyata tak berbeda dari rekan-rekan lainya di pabrik, yang hanya menyandang status buruh kontrak.

“Kalau gaji sama dengan yang kontrak, cuma ada perbedaan kalau pabrik lagi nggak ada kerjaan mereka yang status kontrak disuruh libur dan nggak dihitung gaji, kalau yang karyawan tetap dihitung hariannya itu,” tambahnya lagi.

Penghasilan itu, tentu terpaut cukup jauh dengan ketentuan dalam penetapan Upah Minimum Kota (UMK) tahun 2018 yang mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 tentang Pengupahan. Dimana berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Banten Nomor 561/Kep.442-Huk/2017 tertanggal 20 November 2017, sebenarnya UMK untuk Kota Tangsel ditetapkan sebesar Rp3.555.834,67.

Meski begitu, Fadoli tak patah semangat untuk tetap bertahan di pabrik tempatnya bekerja. Mengingat, di usianya saat ini sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan lain di luar sana. Dia pun berharap, momentun hari buruh yang jatuh tiap tanggal 1 Mei tak sebatas ceremonial belaka, melainkan ada progres kesejahteraan yang dirasakan buruh miskin sepertinya.

“Harapan buruh semua sama, apalagi pekerja seperti kita, di pinggiran ibu kota begini, jauh dari perhatian pusat. Kita ingin ada peningkatan gaji, yang sesuai, ada juga tambahan transport buat kita. Itu dulu saja yang harus dipenuhi,” ujarnya.

Begitupun dirasakan, Asmad (39), rekan Fadoli yang bekerja di pabrik yang sama. Sudah belasan tahun dia bekerja, namun upah yang diterima dinilai jauh dari kecukupan. Padahal beberapa kali, organisasi buruh di pabrik itu sempat menuntut peningkatan upah.

“Saya juga anggota Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) di pabrik ini, tapi ya tuntutannya kurang direspon. Makin kesini, ya pengurusnya makin kendur, memang sebenarnya nggak dilarang sama perusahaan untuk berorganisasi. Tapi karena nggak direspon itu, akhirnya kita malah capek sendiri nuntut perbaikan upah,” tukasnya.(bli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *