Kerjasama Pemerintah dan Swasta , Mewujudkan Tangerang Selatan Sebagai Kota Layak Huni

oleh
Dinas Bangunan dan Penataan Ruang (DBPR) Kota Tangerang Selatan, menggelar Seminar Hari Tata Ruang Nasional, Kamis (22/11/2018) di Hotel Grand Zuri, BSD Serpong.

Monitor, Tangsel – Usia Kota Tangerang Selatan kini genap 10 tahun (26 November 2008-26 November 2018). Kota berpenduduk lebih dari 1,5 juta jiwa dengan luas wilayah 147,19 kilometer persegi yang terdiri dari 7 kecamatan (Pamulang, Ciputat, Ciputat Timur, Pondok Aren, Serpong, Serpong Utara dan setu) itu, memiliki berbagai aneka potensi dan peluang investasi. Dengan visi terwujudnya Tangerang Selatan sebagai kota cerdas, berkualitas dan berdaya saing dengan berbasis teknologi dan inovasi, serta misi mengembangkan sumber daya manusia yang handal dan berdaya saing, mengembangkan infrastruktur kota yang fungsional, menciptakan kota layak huni yang berwawasan lingkungan, mengembangkan ekonomi kerakyatan berbasis inovasi dan produk unggulan serta meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik berbasis teknologi informasi.

Saat ini Kota Tangerang Selatan juga telah berhasil membangun kerjasama pemerintahan dan swasta untuk membangun bersama-sama menjadikan Tangerang Selatan sebagai Kota yang nyaman / layak huni (liveable city). Keberhasilan tersebut mendapatkan penghargaan dari the Eastern Regional Organization for Planning and Housing (EORAPH) yang merupakan organisasi non pemerintah yang berafiliasi dengan PBB.

Seminar Hari Tata Ruang Nasional

Kepala Dinas Bangunan dan Penataan Ruang (DBPR) Kota Tangerang Selatan, Dendi Pryandana, MT pada kegiatan Seminar Hari Tata Ruang Nasional, Kamis (22/11/2018) di Hotel Grand Zuri, Bsd Serpong, menjelaskan bahwa untuk mewujudkan Tangsel menjadi Kota layak huni, saat ini banyak yang sudah dilakukan Pemerintah Kota Tangsel khususnya bagi para pengembang yang ingin membangun perumahan, sudah diwajibkan zoning untuk PDAM, baik pembangunan apartemen maupun rumah tapak guna mengatasi ketersediaan air bersih. Selain itu, kedepannya juga akan dibangun konsep sistem penyediaan air minum (SPAM) skala kota. Sementara air tanah digunakan hanya sebagai cadangan saja.

“Soal suplai ketersediaan air bersih, kantor-kantor pemerintahan seperti Puspemkot dan Gedung DPRD juga saat ini sudah mulai dilakukan, sebagai wujud daripada penyediaan sarana-prasarana air bersih,” ujar Dendi.

Sementara itu, ketersediaan lahan yang terbatas di Kota Tangerang Selatan, sambung Dendi tentunya menjadi kendala dalam membangun hunian atau pemukiman. Maka itu, Pemerintah Kota Tangsel telah mensiasatinya dengan konsep pembangunan hunian vertikal. Sebab, peningkatan jumlah penduduk tentu saja meningkatkan jumlah kebutuhan akan tempat tinggal. Konsep hunian vertikal menjadi solusi bagi warga Kota Tangerang Selatan.

Dikatakan Dendi, untuk mitigasi bencana kedepannya akan menjadi perhatian khusus Pemkot Tangsel sebagai bentuk antisipasi dan kewaspadaan masyarakat mengingat wilayah Indonesia rawan bencana.

isisi lain, untuk mengantisipasi persoalan banjir yang kerap terjadi. Dibantu pemerintah pusat melalui Dinas Pekerjaan Umum, Pemkot Tangsel juga telah membangun beberapa tandon air guna menjaga daya tampung air serta menjaga kebutuhan air agar lancar dan terkendali.

Guna mewujudkan visi Tangerang Selatan, Dendi juga mengungkapkan bahwa sangat penting membangun kearifan lokal. Sehingga masyarakat bisa memahami secara utuh akan keberadaan Tangsel sebagai smartcity. Masyarakat Kota Tangsel memiliki budaya campuran Betawi dan Sunda. Beberapa kesenian yang berkembang sampai saat ini seperti, seni musik Gambang kromong dan Tari Krecek, merupakan tari pergaulan yang banyak berkembang. Pada beberapa wilayah banyak yang masih dihuni oleh pelaku kesenian seperti Lenong dan Topeng. Dan perlu diketahui, Tangsel juga memiliki gelanggang budaya sebagai sarana untuk mengembangkan seni budaya yang ada.

“Untuk menyambung komunikasi antar warga dilingkungannya masing-masing terutama yang ada dikomplek perumahan, Pemkot Tangsel juga membangun bale-bale warga, rumah blandongan atau rumah kebaya dengan memanfaatkan lahan fasos fasum yang ada, sebab Tangsel sangat erat dengan kultur budaya betawinya,” papar Dendi.

Daya dukung lainnya, yakni tanaman Anggrek yang kini terus dikembangkan di kota Tangsel juga telah menjadi icon kota bermottokan cerdas, modern dan religius itu. Salah satu komoditas subsektor holtikultura bernilai estetik tinggi yang permintaannya terus meningkat setiap tahunnya itu terus dikembangkan, terutama varietas Golden Shower dan Vanda Douglas. Sebab itu, Pemkot Tangsel akan membuka budidaya anggrek di Ciater.

Ditempat yang sama, pengamat perkotaan, Drs Yayat Supriatna mengatakan bahwa wujud dari kota modern tidak hanya didukung dari bangunan infrastruktur yang megah dan mewah saja. Tapi juga harus diimbangi dengan pembangunan sumber daya manusianya. Maka itu, kata Yayat, Kota Tangsel harus bisa mewujudkan hal tersebut, sehingga konsep kota modern yang digagas bisa sesuai dengan perkembangan zaman yang ada.

“Smart city harus membangun kemandirian, maka masyarakat Tangsel harus dilatih untuk melek teknologi dan juga memiliki karakter budaya,” ujarnya. (ADV)l tersebut, sehingga konsep kota modern yang digagas bisa sesuai dengan perkembangan zaman yang ada.

“Smart city harus membangun kemandirian, maka masyarakat Tangsel harus dilatih untuk melek teknologi dan juga memiliki karakter budaya,” ujarnya. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *