Kisah Bocah Malang Dipasung Karena Himpitan Ekonomi Orang Tua

oleh

Monitor,Tangsel – Nasib memilukan dialami bocah bernama Zidni Khoiri Alfatir (10), dia harus dipasung dengan cara kaki dirantai di ruang kamar kontrakan tempat tinggalnya, di Kampung Setu, RT16 RW04, Setu, Tangerang Selatan (Tangsel).

Alfatir selama 6 bulan terakhir dirantai di atas tempat tidur oleh kedua orang tuanya, Suhin (43) dan Wagiati (46). Setiap hari dia hanya beraktifitas di atas tempat tidur, termasuk dengan kotoran tinja yang bercampur baur di ruangan itu.

Informasi yang dihimpun, orang tua memasungnya lantaran khawatir putranya itu mengacak-acak perabot rumah hingga membahayakan keselamatannya sendiri. Disebutkan, Fatir diduga mengidap hiperaktif sejak kecil.

Kecelakaan mengenaskan pernah dialami Fatir, yaitu pada tahun 2014 silam. Ketika itu, sang adik tengah bermain korek api di dalam rumah. Karena tak ada orang tua, tiba-tiba api menjalar melahap sebagian isi rumah, hingga sempat pula membakar bagian tubuh Fatir.

Fatir kini bisa menghirup udara segar setelah dijemput oleh Dinas Sosial Kota Tangsel Rabu 13 Maret 2019. Dia kini dirawat di Rumah Singgah yang terletak di Kampung Kademangan, Setu, Tangsel.

Diceritakan, pemasungan terhadap Fatir baru terungkap setelah ada pihak Kelurahan Setu yang mendatangi kontrakannya. Ketika itu, pihak kelurahan tengah membantu mengurus surat administratif guna perawatan ibu Fatir, Wagiyati, yang terkena diabetes.

“Jadi Pak Sekel (Sekretaris Kelurahan) datang ke kontrakannya, disitulah baru tahu ada anak yang dirantai itu. Terus dikoordinasikan dengan saya untuk ditindaklanjuti,” terang Daryuanto, Satgas Perlindungan Anak Kelurahan Setu, Kamis (14/3/2019).

Menurut Daryuanto, kedua orang tua Fatir sendiri kini masih berada di RSU Kota Tangsel. Sedangkan Fatir dan adiknya yang duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar (SD), saat ini belum diketahui keberadaannya karena sering pergi dari rumah.

“Adiknya kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah (MI), tapi kata tetangganya sering pergi dari rumah. Jadi prihatin melihat kehidupan keluarga ini, apalagi ayahnya masih menemani ibunya yang dirawat di RSU,” katanya.

Saat dijemput pertama kali, tutur Daryuanto, Fatir dalam kondisi fisik yang tak menentu. Rambutnya panjang tak terawat, dengan kulit wajah dan sebagian badannya bertapak akibat bekas luka bakar. Bahkan ketika itu Fatir hanya memakan material kasur karena tak kuasa menahan rasa lapar.

“Nggak ada makanan, akhirnya langsung dibawa ke Rumah Singgah. Disana dimandikan lalu diberi makan. Rantainya juga baru dilepas setelah sampai di Rumah Singgah, karena sudah karatan, dan kuncinya juga nggak ada,” imbuhnya.

Kini, Fatir terus didampingi oleh sejumlah relawan di Rumah Singgah. Dia pun mulai bisa berjalan meski dengan langkah gontai. Setiap kali menginginkan sesuatu, Fatir hanya bisa berteriak kecil seraya menunjukkan jarinya tanpa mampu mengeluarkan kalimat secara jelas.

“Memang nggak bisa bicara, tapi kita belum tahu apakah karena menderita penyakit atau memang karena trauma. Karena selama ini nggak pernah kena sinar matahari, kita sangat prihatin,” tukasnya.(bli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *