Memupuk Semangat Literasi Sejak Dini, Siswa di Tangsel Pamer Karya Novel Albatross

oleh

Monitor, Tangsel – Guna menumbuhkan semangat literasi bagi generasi bangsa, dibutuhkan tekad kuat semua pemangku kepentingan. Tekad itu tak hanya datang dari lembaga dan instansi pemerintah, tapi juga oleh intitusi swasta yang memang berkompeten meningkatkan kemampuan menulis dan membaca.

Institusi pendidikan adalah media yang paling dasar dalam menempa generasi-generasi pecinta literasi. Berbagai cara pun dilakukan, agar peserta didik terpacu mendalami hasrat menulis maupun membaca. Salah satunya, adalah dengan memasilitasi program tertentu di sekolah masing-masing.

Seperti halnya bagi siswa kelas 12 (3 SMA) Candle Tree bernama Bumi Satria Pandawa (18). Dia menjadi populer di antara siswa lainnya antaran menghasilkan karya novel berjudul “Albatross”. Novel itu digarapnya seorang diri, dengan kurun waktu hanya 1 bulan saja.

“Mengerjakannya sekira 1 bulan. Itu saya sendiri, kalau sebelumnya saya juga pernah mengerjakan ini, tapi dikerjakan bersama-sama dalam satu grup,” terang Bumi, di Auditorium Candle Tree, di Jelupang, Pondok Jagung, Serpong Utara, Tangerang Selatan (Tangsel), Senin (20/5/2019).

Memahami novel Albatross tak semudah membaca novel biasa. Lantaran kebanyakan isinya berisi ungkapan-ungkapan metafora. Agar dapat mengerti, pembacanya mesti melewati halaman demi halaman dengan seksama.

“Jadi di dalamnya itu banyak poin-poin yang untuk memahaminya harus dibaca lebih dulu,” terangnya.

Diceritakan dia, menulis novel telah mendorongnya untuk lebih banyak mengetahui segala hal yang luas. Kondisi demikian, kata Bumi, ditopang pula oleh kegiatan di sekolah yang selalu mengadakan program penulisan novel dan cerpen tiap tahun.

“Keinginan menulis tema Albatross ini muncul, karena ada keinginan membuka hal yang baru, seperti menggambarkan beban psikologis di sana,” sambungnya.

Sementara, guru pembimbingnya, F Prasongko, menuturkan, penulisan novel Albatross adalah murni ide dari Bumi Satria. Meskipun dalam naskah awalnya, ada beberapa bagian yang dirubah karena masuk kategori dewasa dan bermakna provokasi.

“Menulis buku (novel) ini juga bisa mengungkapkan perasaan seseorang, itu bisa membangkitkan kepercayaan diri tiap siswa. Hal itu yang melatarbelakangi dia (Bumi) menulis naskah ini,” ujarnya.

Dilanjutkannya, penulisan novel oleh Bumi Satria merupakan rangkaian yang khusus diterapkan pada kelas 11 tiap tahunnya. Dengan begitu, para siswa terbiasa mempraktikkan banyak skill yang dapat membantunya kelak saat sudah terjun di masyarakat.

“Ini program sekolah dalam rangka mendorong literasi sejak dini. Sehingga mereka terus termotivasi, dan berlanjut saat mereka sudah terjun ke masyarakat,” tukasnya.(bli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *