‘Nasi Kutang’, Nasi yang Terbuat Bukan dari Beras, Kok Bisa?

oleh -

Monitor, Tangsel –¬†Selama ini, masyarakat selalu mengidentikan nasi terbuat dari beras. Namun ada yang berbeda dengan olahan pangan yang satu ini. Yakni ‘Nasi Kutang’ karena bahan bakunya bukanlah beras.

Menurut Chef Ranu Visuda, dirinya bersama dengan komunitas kuliner di Tangsel mengajak hidup sehat dengan mengurangi makan nasi. Banyak bahan pangan selain nasi salah satunya dari umbi-umbian yang dapat ditemukan dengan mudah.

“Mensosialisasikan pangan lokal dengan limbah melalui kulit melinjo yang dikenal nasi kutang. Nasi kutang bukan dari beras tapi dari singkong dan sukun. Sosialisasi sudah tapi ini lebih mendekatkan lagi kepada UKM. Nasi kutang dari umbi-umbian cocok untuk makan pagi,” katanya.

Chef Ranu mengatakan, bahwa Nasi Kutang sudah familier di kawasan Banten karena memang cukup digemari. Memiliki satu jenis hanya banyak variasi rasa seperti di toping, seperti tumis cumi serundeng daging dan ikan sehingga orang yang tidak terbiasa dengan umbi-umbian menjadi mau makan.

“Nasi kutang ada satu macam hanya topingnya berbeda-beda variannya banyak. Solusi sarapan pagi bagi masyarakat,” tambah ia.

Ia mengajak untuk mengurangi makan nasi. Dengan mengurangi makan nasi yang biasa sehari tiga kali menjadi dua kali hidup akan sehat. Nasi lebih banyak mengandung gula penyebab diabetes. Sementara umbi-umbian lebih aman sehingga menyehatkan.

“Kita harus mengurangi nasi karena satu hari jangan makan nasi bisa dari tiga kali, bisa diganti dengan umbi-umbian karena nasi sumber penyakit diabet. Porsi dikurangi dengan nasi sukun dan lainnya,” paparnya.

Semenatra itu, Fungsional Umum Seksi Konsumsi dan Keanekaragaman Pangan, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Tangsel, Fahmy Rahardian menyampaikan pemerintah daerah kepanjangan dari pemerintah pusat dalam menerapkan kebijakan program. Dalam hal ini tentang keaneragaman pangan yang ada untuk bisa di konsumsi selain nasi.

“Mencanangkan percepatan penganeragaman konsumsi pangan. Maksud gerakan tersebut supaya masyarakat mampu mengkonsumsi jenis makanan yang lebih beragam,” katanya di Pondok Aren dalam kegiatan Tangsel Culinary Vaganza.

Dalam mensosialisasikan keaneragaman pangan maka pihaknya mengajak komunitas dan UKM untuk mengkampanyekan makanan apa saja yang aman sebagai pengganti nasi. Pangan lokal dinilai cukup banyak serta menjadi pilihan masyarakat di samping enak juga sehat.

“Seperti yang dibuat teman-teman dari para UKM bersama Chef Rabu Visuda dalam rangka membudayakan pola konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) untuk hidup sehat, aktif dan produktif,” imbuhnya. (hms/mt02)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.