Ngobrol Ala NU, Cara Kaum Sarungan di Tangsel Imbangi Perkembangan Era Digital

oleh

Monitor, Tangsel – Era digitalisasi yang saat ini berkembang begitu pesat memberi dampak positif maupun negatif. Hal demikian sangat tergantung dengan cara mengelola dan menghadapinya.

Teknologi digital merupakan media baru yang memiliki karakteristik bersifat jaringan atau internet. Selain internet, maka media lain seperti koran, majalah, telivisi, dan lain-lain disebutkan bukanlah bagian dalam kategori media baru.

Peralihan media massa ke teknologi baru atau internet itu disebabkan adanya pergeseran budaya dalam sebuah penyampaian informasi. Dengan informasi yang lebih mudah dan cepat diterima, maka masyarakat luas tentu akan lebih sering mengaksesnya dibanding ke media massa era sebelumnya.

Namun begitu, harus ada pakem yang dipahami ketika menjalani era digitalisasi, khususnya dalam ruang penyampaian informasi. Karena jika tidak, kecepatan sistem digital itu justru dapat menjadi bumerang dan merusak tatanan yang ada dalam masyarakat.

Membahas itu, Gerakan Pemuda (GP) Ansor menggelar forum diskusi bertajuk Ngobrol Ala Nahdatul Ulama (NU) di Warung Pemuda, Jalan Lingkar Selatan, Muncul, Setu, Tangerang Selatan (Tangsel). Di sana dibeberkan, NU yang identik dengan kaum sarungan terus mempersiapkan diri mengimbangi era digitalisasi saat ini.

“Kalau bicara di media sosial banyak sekali berita hoaks, ujaran kebencian dan lainnya. Semua itu sangat mudah disebarkan, dan sangat mudah pula memengaruhi masyarakat. Oleh karenanya, tugas kita sebagai kader NU harus mampu membentengi diri, keluarga, saudara sebangsa, dengan memerangi hal tersebut,” ucap Irfan Alamsyah, Ketua GP Ansor Setu, dalam pemaparannya, Senin (17/6/2019) malam.

Menurut Irfan, dalam perkembangan era digital saat ini tak sedikit oknum yang memanfaatkannya untuk mengadu domba antar sesama. Apalagi jika sudah dikaitkan dengan agenda-agenda politik tertentu, misalnya Pemilu Presiden 2019 yang baru saja dilaksanakan.

“Banyak hal positif yang diperoleh dari era digital ini, tapi tetap ada saja yang memanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Bisa kita lihat misalnya dari proses Pilpres kemarin, informasi-informasi antara yang fakta dan fitnah bercampur aduk membahayakan NKRI. Ini tantangan bagi generasi milenial NU,” katanya.

Generasi NU, dilanjutkan Irfan, harus mengantisipasi hal itu dengan cara yang diajarkan dalam islam, yakni bertabayyun. Tabayyun diartikan sebagai suatu usaha mencari kejelasan tentang sesuatu ijeokrdsesshingga mendapatkan titik terang. Dengan begitu, ummat akan selamat dari semburan hoaks ataupun fitnah.

“Kalau dapat informasi, harus bertabayun dulu, dicari kebenaran dan faktanya,” jelasnya.

Masih kata dia, generasi milenial di sisi lain harus pula peka terhadap potensi-potensi yang disebabkan perkembangan era digital. Contohnya memanfaatkan teknologi itu sebagai wadah membangkitkan kreatifitas ekonomi ummat.

“Bisa dimanfaatkan menjadi youtuber, atau kreatifitas lainnya. Caranya cukup dengan belajar. Kaum muda NU harus kreatif, berani dan jangan pernah puas dalam belajar dan mengimbangi era digital ini,” ungkapnya lagi.

Sementara, Pengurus Wilayah GP Ansor Provinsi Banten, Suhendar, berharap agar kaum milenial NU terus mengaktualisasikan diri dengan kemajuan teknologi digital. Sekaligus juga, menjadi garda terdepan untuk mengcounter upaya pihak tertentu yang memecah belah bangsa melalui hoaks dan fitnah di media sosial.

“Jangan sampai kalah dengan akun “Cyber Army” yang menyerang bangsa kita. Karena bagaimanapun konsep kebangsaan tak bisa ditawar lagi. Kita ini majemuk, berbeda-beda tapi tetap satu tujuan,” tukas Suhendar di lokasi yang sama.(bli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *