Proyek TPU Sari Mulya Mengundang Cerita Mistis, Ini Penuturan Warga

oleh -
Mak Nemah (66), rutin setiap pagi demi mengharapkan kesembuhan atas penyakit stroke yang dideritanya, Jumat(22/10/2021)

Monitor, Tangsel- Berjalan tertatih menggunakan tongkat di area gerbang taman pemakaman umum (TPU) Sari Mulya terus dilakukan Mak Nemah (66), rutin  setiap pagi demi mengharapkan kesembuhan atas penyakit stroke yang dideritanya.

Mak Nemah merupakan warga asli  Kp Curug, RT 01 RW 01 Kelurahan Babakan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan yang lokasi rumahnya persis menghadap  lahan TPU Sari Mulya yang luasnya lebih dari 20 hektar.

Kepada Monitor, janda tua  yang memiliki  4 orang anak tersebut, bercerita bahwa dirinya baru saja kehilangan putra pertamanya sebulan lalu, meninggal karena sakit.

Terkait pembangunan TPU Sari Mulya yang dimulai sejak 2018 lalu, Mak Nemah menceritakan pengalaman pribadinya.

Di awal pembangunan, katanya tempat yang semula sepi, menjadi begitu ramai dengan hilir mudik  sejumlah alat berat dan kendaraan pengangkut tanah untuk pengurukan lahan dan pembangunan sarana penunjang.

kondisi terkini di areal TPU Sari Mulya, Kelurahan Babakan, Kecamatan Setu (dok. monitortangerang.com)

” Dulu lokasi di sini (TPU) adalah lahan kosong tempat kemping yang dinamakan Lembah Hijau, Bu Airin juga pernah kemari,” kata Mak Nemah, Jum’at (22/10/2021) mengawali ceritanya.

Selanjutnya, pada 2018 mulai rame informasi Lembah Hijau akan dijadikan TPU oleh pemerintah Kota Tangerang Selatan.

“Waktu pengurukan lahan, saya ikut membantu yang kerja, memasak nasi . Ya cuma ngga dibayar, capeknya mah luar biasa, pernah masak 25 liter sehari,” sambung Mak Nemah.

Hilir mudik kendaraan tiap hari membuat kampung tersebut menjadi rame. Namun, setelah pekerjaan pengurukan rampung dan semua pekerjanya pulang, malam harinya Mak Nemah mulai merasakan rasa sakit yang luar biasa di badannya.

“Udah selesai pekerjaan pengurukan yang kerja pada pulang semua, eh malamnya badan saya langsung pada sakit, tangan terasa ada yang narik kenceng banget,” ujarnya.

Meski, sakit yang dideritanya sudah hampir setahun hingga kini Mak Nemah belum berobat ke rumah sakit  karena terbentur biaya.

Alih-alih berobat ke orang pinter, Mak Nemah  malah dapat penjelasan bahwa penyakit yang dideritanya bukan stroke  biasa, melainkan ada makhluk yang jahil berasal dari lokasi sekitaran TPU yang dulu lahan kosong dan area persawahan.

“Kata orang pinter (dukun) dari Cirebon, ngasih tau bahwa penyakit saya karena ada yang jahil. Dedengkot (penghuni) di sini (TPU) yang minta tumbal macam macam, dari kepala kambing sampe ayam putih,” ungkapnya.

Dirinya menceritakan itu kepada yang lain, hanya saja  tidak ditanggapi karena terkesan mengada-ada.

” Saya cerita juga sama yang lain, tapi ya ngga ditanggapi. Saya ga tau kudu gimana, ya paling  rajin latihan jalan aja pake tongkat tiap pagi, mudah-mudahan cepat sembuh,” pungkasnya.(mt01)

Tinggalkan Balasan