Puasa dan Keikhlasan

oleh -
Dedi Sutendi, S.Th.I (Syahmi Center)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas/memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al-Bayinah/98 :5)

Marhaban Ya Ramadhan. Alhamdulillah wa syukru lillah, kita memasuki Ramadhan 1442 H. Inilah bulan suci penuh kasih sayang, ampunan, dan dihidangkannya ke kita sebagai hamba-hamba Allah yang beriman, yang kita nantikan.

Moment ini kita jadikan wadah untuk mensucikan diri dari dosa, baik dosa vertikal maupun dosa horizontal. Karena puasa sejatinya bukan hanya ibadah fisik, namun lebih dari itu memerlukan pemahaman yang lebih tinggi, yaitu ibadah hati.

Salah satu pendidikan Ramadhan dalam hal ini puasa ialah untuk membentuk setiap muslim menjadi pribadi yang mukhlisin, yaitu seorang muslim yang benar-benar ikhlas
melakukannya hanya karena Allah SWT.

Itulah sebab, Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menjelaskan besarnya pahala yang akan diberikan kepada orang-orang yang berpuasa secara eksplisit. Berbeda dengan ibadah utama lainnya, seperti salat, Rasulullah SAW menjelaskan secara eksplisit ganjaran yang didapat.

Shalat yang dilakukan dengan berjamaah maka akan mendapatkan kebaikan 27 derajat. Begitu juga ketika Rasulullah menerangkan besaran pahala ketika membaca al-Quran, “Barangsiapa membaca satu huruf dari al-Quran, maka baginya mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dibalas pahala sepuluh kali lipat”.

Dalam perkara tersebut, Rasulullah menjelaskan detilnya pahala yang akan Allah berikan kepada mereka. Bahkan dalam ibadah sedekah, yang sangat dianjurkan diperbanyak di bulan Ramadhan. Allah SWT menjelaskan di dalam al-Quran :

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji.
Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui”(QS. Al-Baqarah/2: 261).

Demikianlah ibadah seperti shalat, membaca al-Quran hingga bersedekah telah dijelaskan dengan sangat detil ganjaran pahala atau balasan kabaikan atas ibadah tersebut. Adapun ibadah puasa, Rasulullah SAW justru tidak menjelaskan berapa banyaknya pahala yang akan diperoleh. Dalam hadis kudsi disebutkan :

“Semua amal perbuatan anak Adam untuk dirinya sendiri, kecuali puasa.
Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku (Allah) dan Aku-lah yang akan membalasnya”.

Maka puasa sejatinya melatih setiap muslim untuk menjadi pribadi yang ikhlas. Jika ibadah yang lain itu dapat dilihat, didengar, bahkan disaksikan ke halayak ramai, sehingga potensi
ibadah tersebut menjadi potensi menjadi riya, sum’ah bahkan takabur, lain halnya dengan ibadah puasa, yang hanya dapat diketahui oleh hamba tersebut dan Allah SWT saja.

Ulama mendefinisikan ikhlas adalah ketika engkau tidak mengharapkan seseorang melihat apa yang engkau kerjakan kecuali Allah, dan ketika seseorang berbuat suatu kebaikan dan ia tidak berharap kepada orang lain agar mereka mengapresiasi apa yang dikerjakannya kecuali Allah SWT.

Dengan kata lain, ikhlas ialah seseorang yang beramal bukan karena manusia, tetapi semata-mata hanya untuk Allah SWT. Seorang yang berpuasa dengan penuh keimanan maka jika bekerja di kantor, sejatinya selain mencari nafkah adalah ibadah ikhlas karena Allah. Maka tidak lagi cari muka atasan, menjilat dan kinerjanya merasa diawasi Allah walau atasannya tidak melihat.

Pelajaran ikhlas bisa kita ambil ibrohnya dari gula. Ketika ada secangkir kopi atau teh yang diminum seseorang. Jika tidak pas dirasa maka yang dikomentari adalah “Kopi/teh nya kurang gula’. Namun jika berlebihan, maka yang menjadi terdakwanya untuk disalahkan adalah gula. “kemanisan ini kopi/tehnya, kebanyakan gula’.

Berbeda ketika rasanya pas, maka gula tidak disebut oleh penikmatnya. “mantab banget kopi/tehnya. Padahal yang membuat rasanya pas adalah peran gula. Begitulah dalam kehidupan sehari-hari, bahwa tidak selamanya menebar kebaikan yang
dilakukan akan berbuah apresiasi, pujian dan sanjungan dari pihak lain.

Bahkan justru sebaliknya menerima hujatan, nyinyiran bahkan fitnahan. Maka sudah selayaknya sebagai orang beriman mesti banyak belajar kepada mahluk Allah yang bernama gula itu, guna menumbuhkan rasa keikhlasan di dalam dirinya. Sehingga segala perbuatan, tingkah laku, progrsm kerja dan amal ibadah apapun dilakukan hanya karena Allah SWT semata.

Bulan puasa memberikan pelajaran untuk membentuk setiap muslim menjadi pribadi yang mukhlis. Ketika seorang siswa/mahasiswa, guru, dosen, yang mendapat suatu hasil yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka di situlah letak ujian keikhlasan tersebut.

Ketika seseorang berbuat secara totalitas berjuang dan berkorban untuk orang/organisasi, tetapi tidak mendapat sanjungan dan apresiasi, maka ketahuilah bahwa yang demikian itu ialah ujian keikhlasan.

Ketika karyawan sudah menunjukan loyalitasnya kepada perusahaan, tetapi tidak mendapatkan apresiasi yang layak, justru karyawan lain yang mendapatkannya, maka yakinlah bahwa hal tersebut adalah ujian keikhlasan. Oleh karena itu, jadikanlah momentum Ramadhan untuk menempa dan melatih diri agar menjadi pribadi takwa dan juga senantiasa melakukan sesuatu karena Allah SWT.

Tahapannya bukan lagi melakukan sesuatu karena ingin diapresiasi makhluk, tetapi mencapai ridho Allah SWT. Jika diamanahkan memimpin aset ummat maka tujuannya untuk kemashlatan ummat secara keseluruhan, bukan untuk dirinya apalagi hanya untuk keluarga besarnya.

Menghidupkan dakwah tujuan utamanya adalah ikhlas karena Allah. Menjadi dewan kemakmuran masjid ikhlas karena Allah, bukan mencari kemakmuran di masjid. Menghidupkan dakwah karena Allah SWT, bukan mencari hidup di jalan dakwah.

Maka puasa adalah spirit untuk meningkatkan keihklasan, semua amal ibadah lainnya tidak lagi karena ingin dipuji, dilihat dan diaparesiasi mahkluk, namun karena perintah Allah (Al-
Bayinah/98 :5). Jika ikhlas landasannya maka tidak ada lagi iri, dengki, hasud kepada saudara semuslim yang sama di jalan dakwah.

Jika ikhlas maka tidak akan ada intrik-intrik busuk hanya
untuk mendapat jabatan di perusahaannya. Jika ikhlas maka tidak ada lagi menggunjing, tajasus menyebar fitnah terhadap tetangganya. Semoga Ramadhan ini menjadikan pribadi kita menjadi lebih ikhlas dalam melakukan semua amal kebaikan. Wallahu a’lam.

Dedi Sutendi, S.Th.I
(Syahmi Center)

Tinggalkan Balasan