Siswi Paskibraka Tangsel Meninggal, Ini Kata Wali Kota Airin

oleh

Monitor, Tangsel – Puluhan calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), yang tengah berlatih di lapangan Cilenggang, Serpong, nampak antusias melihat kedatangan Wali Kota Airin Rachmi Diany di lokasi.

Mereka tengah dirundung duka setelah kepergian sang pembawa Baki, Aurellia Qurrota Aini (16), pada Kamis 1 Agustus 2019 pagi. Dikabarkan dara berparas ayu itu meninggal kelelahan, akibat kerasnya tempaan olah fisik dari para senior di Purna Paskibraka Indonesia (PPI).

Kedatangan Wali Kota Airin sontak menjadi pelipur lara bagi mereka. Ketegangan saat menjalani latihan, terasa berubah lebih santai. Secara tersirat, siswa-siswi Paskibraka itu ingin mencurahkan sesuatu yang terpendam selama masa pelatihan.

Airin tentu memahami betul kondisi psikologis mereka, sedih, tegang dan was-was bercampur-aduk menjadi satu. Itulah sebabnya, kedatangan Airin tak lain untuk memompa semangat para calon Paskibraka agar terus berkonsentrasi menjalani latihan.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Airin berjanji segera mengevaluasi sistem pelatihan yang dijalani Paskibraka Tangsel. Sebagaimana pula telah diminta oleh orang tua Aurel yang menyebutkan, ada pola pelatihan dari senior PPI yang membebani psikis maupun psikologis peserta.

“Senior juga bisa salah. Jangan takut sampaikan keluhan adik-adik sama pelatih,” ucap Airin di lokasi.

Dari penelusuran terhadap calon Paskibraka diketahui, bahwa mayoritas mereka sebenarnya tak ingin lagi dilatih oleh senior di PPI. Meski tak tegas menyebut alasannya, namun raut wajah siswa-siswi itu memperlihatkan ketidaksukaan atas pola melatih dari PPI.

“Mending (dilatih) TNI,” seru para calon Paskibraka secara kompak.

Bahkan ada beberapa calon Paskibraka yang menyatakan lebih baik memilih izin tak ikut latihan ketimbang tetap dilatih PPI. Sebagaimana dijadwalkan, mulai tanggal 11 hingga 16 Agustus para peserta akan memasuki karantina di Hotel Marlyn Serpong. Selama itu pula lah mereka akan dilatih oleh PPI.

“Saya mau izin aja besok,” terang salah satu anggota Paskibraka.

Sebelumnya, PPI Tangsel membantah ada kekerasan fisik yang dilakukan selama proses pelatihan calon Paskibraka. Hal itu dilontarkan setelah berembus rumor, bahwa terdapat sejumlah luka lebam di tubuh Aurel.

Meski begitu, pihak keluarga Aurel mengkritik pola pelatihan oleh senior PPI. Di mana dianggap terlalu berat, dan tak sesuai porsi setingkat siswa-siswi sekolah umum. Bahkan dalam catatan buku diary almarhumah Aurel dituliskan, jika dia lebih menyukai pola pelatihan oleh TNI dibanding senior-senior PPI. (bli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *