Tega, 2 Perempuan Gasak HP dan Uang dari Yayasan Tunanetra di Tangsel

oleh -

Monitor, Tangsel- Aksi pencurian terekam kamera Close Circuid Television (CCTV) yang terpasang di yayasan tunanetra, Raudlatul Makfufin di Jalan Haji Jamat, RT02 RW05, Buaran, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel). Pelakunya merupakan 2 orang perempuan paruh baya.

Video detik-detik pencurian itu pun ramai tersebar di berbagai media sosial. Pelakunya dianggap tak lagi bermoral, lantaran memanfaatkan kondisi korban yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan.

Kejadian itu berlangsung pada Jumat 26 Maret 2021 sekira pukul 14.11 WIB. Dalam video yang beredar, nampak seorang pelaku yang mengenakan jilbab hitam datang memasuki yayasan tersebut dengan berpura-pura menumpang ke toilet.

Selepas dari toilet, pelaku langsung mengamati beberapa ruangan yang ada, lalu masuk ke dalam ruang guru dan mencuri handphone dari dalam tas. Pegawai dan guru di dalam yayasan sempat berpapasan dengan pelaku, namun keterbatasan penglihatan membuat pelaku dengan mudah menyelinap pergi.

Korban pencurian itu bernama Rantiani Permata (35) yang merupakan salah satu guru di yayasan tersebut. Dia mengatakan, awalnya sempat berbincang-bincang dengan salah satu pelaku yang berpura-pura meminta dipijat akibat keseleo.

“Awalnya dateng kan 1 orang perempuan kesini, terus alasannya keseleo, jadi mau dipijat. Padahal kan ini yayasan pondok, kita nggak ada praktik pijat juga. Tapi karena memang kita mau menolong, yaudah akhirnya saya coba bantu pijat dia di asrama,” tutur Rantiani, Sabtu (27/03/21).

Setelah selesai dipijat, pelaku rupanya berpura-pura ingin menumpang ke toilet yayasan. Namun ternyata, pelaku lebih dulu mengintai kamar kontrakan di sebelah asrama. Karena meyakini penghuninya juga tunanetra, pelaku masuk ke dalam dan membuka tas di kamar.

“Jadi ternyata sebelum mencuri di yayasan, pelaku ini main ke kontrakan saya di sebelah. Karena kita kan waktu pijat sambil ngobrol, jadi dia tahu itu kontrakan saya. Tapi di sana gagal ngambil barang, karena suami saya kan tunanetra juga terus karena ngerasa ada orang masuk langsung menegur gitu,” sambungnya.

Gagal beraksi di kediaman korban, satu pelaku lainnya mencoba memasuki yayasan kembali dengan alasan menumpang ke toilet. Di sanalah pelaku berhasil menggasak seunit handphone dan uang milik Rantiani. “Dia ngambil handphone dari tas, itu handphone punya anak saya buat belajar online,” ucapnya.

Pencurian baru disadari Rantiani beberapa saat kemudian Hal itu disebabkan munculnya kecurigaan, lantaran pelaku mengaku akan pergi namun tetap terlihat berada di yayasan.

“Kan bilangnya ke saya mau pergi, dijemput. Tapi kok nggak datang-datang jemputannya. Akhirnya saya curiga kan, terus saya ke ruangan cek tas ternyata isinya diambil. Ibu-ibunya udah duluan pergi,” tambahnya.

Atas pencuriian itu, Ketua Yayasan, Budi Susanto berencana akan melaporkannya ke Polisi. Dikatakan Budi, terduga pelaku menggunakan modus seolah-olah bertamu, namun sebenarnya sedang mengintai harta benda targetnya.

“Kalau di yayasan, alasannya mau pijat keseleo. Tapi kalau ke rumah-rumah warga alasannya mau jualan stiker tentang pajak. Mau kita laporin biar nggak terulang,” ucapnya.(bli)

Tinggalkan Balasan